Sunday, November 25, 2007

Thursday, November 15, 2007

They know where they have to go

Click here to view the real size.
 
Have you ever seen birds flying in a flock in the sky? Did you ask yourself, "Where are they coming from, and where are they going?" In a certain season they look so coming out into our area. They land on the farm fields or lakes. And when the seasong is ended, they are gone to another places far away they know. They will come back again in the next same season after their long journey. Maybe they have stories from another sides of this planet earth.
 
Walt Disney could make films about them. Of course they have stories about their journey: how to get food for the colony, how to survive from enemies' attacks, how to find a right place to land and make their nests, how to teach their new generations to fly, etc. And above all: how to know the seasons!
 
Mother nature gives them everything to survive. I just imagine how they have "faith" about this! And look, lakes become lively with their chatter. The sky becomes so beauty not only with its blue, clouds, sunshine, but also with their flights. It's so beautiful when they are dancing in a formation in the sky, isn't it? We can see the mother nature provides an entertaining performance presented by the birds and their fellows in a proper season.
 
What do they do? I just think about a celebration of being creature and part of the harmony! ***

Wednesday, October 31, 2007

Manusia dan Alam Semesta

Ketika saya kembali ke judul blog ini - Natural Wisdom - seolah ada satu hal yang masih mengganjal dalam hati, sesuatu yang secara lugas harus saya pertanyakan sendiri: Bagaimana mungkin alam semesta mempunyai kebijaksanaan? Maka saya ingin mensharingkan kerangka pikir di balik proses permenungan dari setiap entry blog ini.

"Natural Wisdom", "kebijaksanaan alam" adalah hasil dari pengolahan akal budi atas pengalaman manusiawi bersama alam sekitar.

Alam semesta (universe) adalah suatu entitas mahaluas (enormous) dan menyimpan misteri yang selalu imanen sekaligus transenden bagi sosok manusia, makhluk berakal budi. Bagaimana persepsi manusia tentang alam ini akan menentukan bagaimana manusia berinteraksi dengannya.
Tetapi saya berpikir, semenjak manusia ada di alam semesta ini, semenjak itulah alam semesta bersifat human! Tentu saja itu sejauh alam semesta ini berada dalam jangkauan akal budi manusia.

Atas dasar pemikiran inilah, manusia mampu menangkap dan menterjemahkan nilai-nilai kehidupan yang dia jumpai (encountering) dalam kesehariannya bersama alam. Dari situlah istilah "kebijaksanaan" muncul dan berkembang. Bahkan kemudian "kebijaksanaan" yang dimengerti oleh manusia itu dalam perkembangannya membimbing manusia kepada sosok pribadi, personifikasi dari "kebijaksanaan tertinggi" - "the ultimate wisdom" yang merangkum (bahkan mengatasi) semua kebijaksanaan yang dikenal akal budi manusia.

Paradigma tentang alam semesta bergeser. Semesta yang semula dimengerti secara terpisah (bahkan infrahuman semata) menjadi semesta yang menginklusikan keberadaan manusia di dalamnya. De facto manusia adalah bagian dari semesta bersama makhluk-makhluk lain. Dalam arti tertentu ada "kesejajaran" antara manusia dengan makhluk-makhluk lain itu. Secara logis kesejajaran ini memungkinkan manusia "berdialog" dengan mereka. Dengan cara itu pula manusia berakal budi ini semakin mengenali dirinya di hadapan dan dalam rengkuhan semesta yang mempribadi.

Dalam paradigma inilah kita mengerti bahwa semesta "memancarkan" kebijaksanaannya yang dalam blog ini diterjemahkan dalam istilah "Natural Wisdom". Manusia bisa bercermin dari pancaran "kebijaksanaan" itu. ***

Recent Comments